Paradikma Penelitian


  Paradigma adalah cara mendasar untuk mempersepsi, berpikir, menilai dan melakukan yang berkaitan dengan sesuatu secara khusus tentang realitas. Bogdan & Biklen (dalam Mackenzie & Knipe, 2006) menyatakan bahwa paradigma adalah kumpulan longgar dari sejumlah asumsi, konsep, atau proposisi yang berhubungan secara logis, yang mengarahkan cara berpikir dan penelitian. Sedangkan Baker (dalam Moleong, 2004: 49) mendefinisikan paradigma sebagai seperangkat aturan yang (1) membangun atau mendefinisikan  batas-batas; dan (2) menjelaskan bagaimana sesuatu harus dilakukan dalam batas-batas itu agar berhasil. Cohenn & Manion (dalam Mackenzie & Knipe, 2006) membatasi paradigma sebagai tujuan atau motif filsofis pelaksanaan suatu penelitian. Berdasarkan definisi definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa paradigma merupakan  seperangkat konsep, keyakinan, asumsi, nilai, metode, atau aturan  yang membentuk kerangka kerja pelaksanaan sebuah penelitian.
  Berdasarkan paradigma yang dianutnya, seorang peneliti akan menggunakan salah satu dari tiga pendekatan yang diajukan Creswell (dalam Emzir, 2008: 9), yaitu: kuantitatif, kualitatif, dan metode gabungan. Menurut Emzir (2008: 9) perbedaan perbedaan yang terdapat dalam ketiga pendekatan ini dapat ditinjau melalui tiga elemen kerangka kerja, yaitu asumsi-asumsi psikologis tentang pembentuk tuntutan pengetahuan (knowledge claim), prosedur umum penelitian (strategies of inquiry) dan prosedur penjaringan dan analisis data serta pelaporan (research method). Creswell (dalam Emzir, 2008: 9) menggambarkan bagaimana ketiga elemen tersebut berpadu membentuk ketiga pendekatan penelitian pada gambar berikut.

1. Tuntutan Pengetahuan (Knowledge Claim)

Tuntutan pengetahuan meliputi asumsi-asumsi filosofis mengenai ontologi (apa itu pengetahuan), epistemologi (bagaimana pengetahuan diperoleh), aksiologis (nilai-nilai yang terkandung di dalamnya), retorika (bagaimana pengetahuan dituliskan) dan metodologi (proses pengkajian). Dengan demikian, tuntutan pengetahuan berhubungan dengan asumsi-asumsi peneliti tentang apa yang akan dipelajari dan bagaimana hal itu dipelajari selama penelitian berlangsung. Creswell (dalam Emzir, 2008: 11) menggambarkan tuntutan atau asumsi-asumsi tersebut pada tabel berikut.
Tabel 1: Asumsi Paradigma Kuantitatif dan Kualitatif
Asumsi
Pertanyaan
Kuantitatif
Kualitatif
Ontologis
Apakah hakikat realitas itu?
Realitas = objektif dan tunggal, terpisah dari peneliti
Realitas = subjektif dan jamak, sebagaimana dilihat oleh partisipan dalam studi
Epistemologis
Apakah hubungan peneliti dengan yang diteliti?
Peneliti bebas dari yang diteliti
Peneliti berinteraksi dengan yang diteliti
Aksiologis
Apakah peran nilai-nilai?
Bebas nilai dan tidak bias
Tidak bebas nilai dan bias
Retorik
Apakah bahasa peneliti?
Formal, berdasarkan serangkaian definisi, impersonal, menggunakan kata-kata kuantitatif yang berterima
Informal, keputusan berkembang, personal, kata-kata kualitatif yang berterima.
Metodologis
Apakah proses pengkajian?
Proses deduktif, sebab akibat, desain statis, kategori disiapkan sebelum studi, bebas konteks, generalisasi mengarahkan prediksi, penjelasan, dan pemahaman, akurat dan reliabel melalui validitas dan reliabilitas
Proses induktif, faktor-faktor yang saling membentuk secara simultan, desain berkembang, kategori diidentifikasi selama proses penelitian, terikat konteks; teori dan pola dikembangkan untuk pemahaman, akurat dan reliabel melalui verifikasi.

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar sobat sangat bermanfaat untuk perkembangan blog ini. Jangan lupa adab berkomentar, dan jangan buang waktu untuk spam. Artikel diatas boleh di Copy Paste... (Cantumkan Sumbernya), Terima Kasih!!!